Minggu, 21 November 2010

tugas kelompok pengantar bisnis

ANGGOTA : KELAS 1 EB 20
RIO ENDRY FEBRIAN    (26210004)
YENDI PRATAMA              (28210617)
FERINA VERODETHA     (22210740)
MARINA DINI               (24210218)

Produksi Perusahaan UNILEVER
Kecap Bango


Misi korporasi Unilever adalah untuk meningkatkan vitalitas hidup. Hal ini menunjukkan bagaimana perusahaan benar-benar memahami pelanggan abad 21 dan kehidupan mereka.
Maju bersama Unilever Indonesia selama lebih dari tujuh puluh tahun
PT Unilever Indonesia Tbk (perusahaan) didirikan pada 5 Desember 1933 sebagai Zeepfabrieken N.V. Lever dengan akta No. 33 yang dibuat oleh Tn.A.H. van Ophuijsen, notaris di Batavia. Akta ini disetujui oleh Gubernur Jenderal van Negerlandsch-Indie dengan surat No. 14 pada tanggal 16 Desember 1933, terdaftar di Raad van Justitie di Batavia dengan No. 302 pada tanggal 22 Desember 1933 dan diumumkan dalam Javasche Courant pada tanggal 9 Januari 1934 Tambahan No. 3.
Dengan akta No. 171 yang dibuat oleh notaris Ny. Kartini Mulyadi tertanggal 22 Juli 1980, nama perusahaan diubah menjadi PT Unilever Indonesia. Dengan akta no. 92 yang dibuat oleh notaris Tn. Mudofir Hadi, S.H. tertanggal 30 Juni 1997, nama perusahaan diubah menjadi PT Unilever Indonesia Tbk. Akta ini  disetujui oleh Menteri Kehakiman dengan keputusan No. C2-1.049HT.01.04TH.98 tertanggal 23 Februari 1998 dan diumumkan di Berita Negara No. 2620 tanggal 15 Mei 1998 Tambahan No. 39.
Perusahaan mendaftarkan 15% dari sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya setelah memperoleh persetujuan dari Ketua Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam) No. SI-009/PM/E/1981 pada tanggal 16 November 1981.
Pada Rapat Umum Tahunan perusahaan pada tanggal 24 Juni 2003, para pemegang saham menyepakati pemecahan saham, dengan mengurangi nilai nominal saham dari Rp 100 per saham menjadi Rp 10 per saham. Perubahan ini dibuat di hadapan notaris dengan akta No. 46 yang dibuat oleh notaris Singgih Susilo, S.H. tertanggal 10 Juli 2003 dan disetujui oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan keputusan No. C-17533 HT.01.04-TH.2003.
Perusahaan bergerak dalam bidang produksi sabun, deterjen, margarin, minyak sayur dan makanan yang terbuat dari susu, es krim, makanan dan minuman dari teh dan produk-produk kosmetik.
Sebagaimana disetujui dalam Rapat Umum Tahunan Perusahaan pada tanggal 13 Juni, 2000, yang dituangkan dalam akta notaris No. 82 yang dibuat oleh notaris Singgih Susilo, S.H. tertanggal 14 Juni 2000, perusahaan juga bertindak sebagai distributor utama dan memberi jasa-jasa penelitian pemasaran. Akta ini disetujui oleh Menteri Hukum dan Perundang-undangan (dahulu Menteri Kehakiman) Republik Indonesia dengan keputusan No. C-18482HT.01.04-TH.2000.
Perusahaan memulai operasi komersialnya pada tahun 1933.
Perluasan Unilever Indonesia
Pada tanggal 22 November 2000, perusahaan mengadakan perjanjian dengan PT Anugrah Indah Pelangi, untuk mendirikan perusahaan baru yakni PT Anugrah Lever (PT AL) yang bergerak di bidang pembuatan, pengembangan, pemasaran dan penjualan kecap, saus cabe dan saus-saus lain dengan merk dagang Bango, Parkiet dan Sakura dan merk-merk lain atas dasar lisensi perusahaan kepada PT Al.
Pada tanggal 3 Juli 2002, perusahaan mengadakan perjanjian dengan Texchem Resources Berhad, untuk mendirikan perusahaan baru yakni PT Technopia Lever yang bergerak di bidang distribusi, ekspor dan impor barang-barang dengan menggunakan merk dagang Domestos Nomos. Pada tanggal 7 November 2003, Texchem Resources Berhad mengadakan perjanjian jual beli saham dengan Technopia Singapore Pte. Ltd, yang dalam perjanjian tersebut Texchem Resources Berhad sepakat untuk menjual sahamnya di PT Technopia Lever kepada Technopia Singapore Pte. Ltd.
Dalam Rapat Umum Luar Biasa perusahaan pada tanggal 8 Desember 2003, perusahaan menerima persetujuan dari pemegang saham minoritasnya untuk mengakuisisi saham PT Knorr Indonesia (PT KI) dari Unilever Overseas Holdings Limited (pihak terkait). Akuisisi ini berlaku pada tanggal penandatanganan perjanjian jual beli saham antara perusahaan dan Unilever Overseas Holdings Limited pada tanggal 21 Januari 2004. Pada tanggal 30 Juli 2004, perusahaan digabung dengan PT KI. Penggabungan tersebut dilakukan dengan menggunakan metoda yang sama dengan metoda pengelompokan saham (pooling of interest). Perusahaan merupakan perusahaan yang menerima penggabungan dan setelah penggabungan tersebut PT KI tidak lagi menjadi badan hukum yang terpisah. Penggabungan ini sesuai dengan persetujuan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) dalam suratnya No. 740/III/PMA/2004 tertanggal 9 Juli 2004.
Pada tahun 2007, PT Unilever Indonesia Tbk. (Unilever) telah menandatangani perjanjian bersyarat dengan PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (Ultra) sehubungan dengan pengambilalihan industri minuman sari buah melalui pengalihan merek “Buavita” dan “Gogo” dari Ultra ke Unilever. Perjanjian telah terpenuhi dan Unilever dan Ultra telah menyelesaikan transaksi pada bulan Januari 2008.
Kronologi
1920-30    Import oleh van den Bergh, Jurgen and Brothers
1933         Pabrik sabun – Zeepfabrieken NV Lever – Angke, Jakarta
1936         Produksi margarin dan minyak oleh Pabrik van den Bergh NV – Angke, Jakarta
1941         Pabrik komestik – Colibri NV, Surabaya
1942-46    Kendali oleh unilever dihentikan  (Perang Dunia II)
1965-66    Di bawah kendali pemerintah
1967         Kendali usaha kembali ke Unilever berdasarkan undang-undang penanaman modal asing
1981         Go public dan terdaftar di Bursa Efek Jakarta
1982         Pembangunan pabrik Ellida Gibbs di Rungkut, Surabaya
1988         Pemindahan Pabrik Sabun Mandi dari Colibri ke Pabrik Rungkut, Surabaya
1990         Terjun di bisnis teh
1992         Membuka pabrik es krim
1995         Pembangunan pabrik deterjen dan makanan di Cikarang, Bekasi
1996-98    Penggabungan instalasi produksi – Cikarang, Rungkut
1999         Deterjen Cair NSD – Cikarang
2000         Terjun ke bisnis kecap
2001         Membuka pabrik teh – Cikarang
2002         Membuka pusat distribusi sentral Jakarta
2003         Terjun ke bisnis obat nyamuk bakar
2004         Terjun ke bisnis makanan ringan
2005         Membuka pabrik sampo cair – Cikarang
2008         Terjun ke bisnis minuman sari buah

Tentang Unilever Indonesia
Dimananapun Anda berada, besar kemungkinan bahwa produk-produk Kami adalah bagian familiar dari kehidupan Anda. Setiap hari di seluruh dunia, masyarakat menggunakan produk-produk Unilever.
Sejak didirikan pada 5 Desember 1933
Unilever Indonesia telah tumbuh menjadi salah satu perusahaan terdepan untuk produk Home and Personal Care serta Foods & Ice Cream di Indonesia.
Rangkaian Produk Unilever Indonesia mencangkup brand-brand ternama yang disukai di dunia seperti Pepsodent, Lux, Lifebuoy, Dove, Sunsilk, Clear, Rexona, Vaseline, Rinso, Molto, Sunlight, Walls, Blue Band, Royco, Bango, dan lain-lain.
Selama ini, tujuan perusahaan kami tetap sama, dimana kami bekerja untuk menciptakan masa depan yang lebih baik setiap hari; membuat pelanggan merasa nyaman, berpenampilan baik dan lebih menikmati kehidupan melalui brand dan jasa yang memberikan manfaat untuk mereka maupun orang lain; menginspirasi masyarakat untuk melakukan tindakan kecil setiap harinya yang bila digabungkan akan membuat perubahan besar bagi dunia; dan senantiasa mengembangkan cara baru dalam berbisnis yang memungkinkan kami untuk tumbuh sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Saham perseroan pertamakali ditawarkan kepada masyarakat pada tahun 1981 dan tercatat di Bursa Efek Indonesia seja 11 Januari 1982. Pada akhir tahun 2009, saham oerseroan menempati peringkat kketujuh kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia.
Perseroan memiliki dua anak perusahaan : PT Anugrah Lever (dalam likuidasi), kepemilikan Perseroan sebesar 100% (sebelumnya adalah perusahaan patungan untuk pemasaran kecap) yang telah konsolidasi dan PT Technopia Lever, kepemilikan Perseroan sebesar 51%, bergerak di bidang distribusi ekspor, dan impor produk dengan merek Domestos Nomos.
Bagi Unilever, sumber daya manusia adalah pusat dari seluruh aktivitas perseroan. Kami memberikan prioritas pada mereka dalam pengembangan profesionalisme, keseimbangan kehidupan, dan kemampuan mereka untuk berkontribusi pada perusahaan. Terdapat lebih dari 300 karyawan tersebar di seluruh nutrisi.
Perseroan mengelola dan mengembangkan bisnis perseroan secara bertanggung jawab dan berkesinambungan. Nilai-nilai dan standar yang Perseroan terapkan terangkum dalam Prinsip Bisnis Kami. Perseroan juga membagi standar dan nilai-nilai tersebut dengan mitra usaha termasuk para pemasok dan distributor kami.
Perseroan memiliki enam pabrik di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Bekasi, dan dua pabrik di Kawasan Industri Rungkut, Surabaya, Jawa Timur, dengan kantor pusat di Jakarta. Produk-produk Perseroan berjumlah sekuitar 32 brand utama dan 700 SKU, dipasarkan melalui jaringan yang melibatkan sekitar 370 distributor independen yang menjangkau ratusan ribu toko yang tersebar di seluruh Indoneisa. Produk-produk tersebut didistribusikan melalui pusat distribusi milik sendiri, gudang tambahan, depot dan fasilitas distribusi lainnya.
Sebagai perusahaan yang mempunyai tanggung jawab sosial, Unilever Indonesia menjalankan program Corporate Social Responsibility (CSR) yang luas. Keempat pilar program kami adalah Lingkungan, Nutrisi, Higiene dan Pertanian Berkelanjutan. Program CSR termasuk antara lain kampanye Cuci Tangan dnegan Sabun (Lifebuoy), program Edukasi kesehatan Gigi dan Mulut (Pepsodent), program Pelestarian Makanan Tradisional (Bango) serta program Memerangi Kelaparan untuk membantu anak Indonesia yang kekurangan gizi (Blue Band).


KECAP BANGO
Bango adalah merek yang mengutamakan kemurnian, yang terasa dari rasa asli kecap kedelai, karena memang terbuat dari kedelai hitam berkualitas tinggi.
Mutu tinggi
Bagi kecap Bango, mutu produk selalu menjadi prioritas tertingginya. Kecap Bango terbuat dari bahan-bahan terpilih yang bermutu tinggi: kacang kedele hitam, gula kelapa, garam dan air tanpa bahan pengawet atau bahan kimia tambahan. Kacang kedele hitam difermentasi selama beberapa bulan agar dapat dicampur dengan baik dalam suatu proses khusus dengan bahan-bahan lain untuk memberikan rasa khusus yang membuat kecap Bango berbeda dari produk lain yang menggunakan kacang kedele kuning.
Konsumen juga menghargai mutunya yang tinggi dan memberi arti vitalitas pada produk – untuk mendapat lebih banyak dari kehidupan.
Merek yang tumbuh pesat
Kecap Bango telah didirikan sejak tahun 1928, sebagian besar di daerah Jakarta dan Jawa Barat oleh para pabrikan setempat. Pada tahun 2001 Unilever mengakuisisi merek dan usaha ini, dan sejak itu pertumbuhannya demikian menjanjikan. Selama bertahun-tahun, ukuran usaha tersebut telah menjadi 2 x lebih besar yang juga tercermin oleh peningkatan pangsa pasar yang tumbuh rata-rata 3% selama dua tahun terakhir.
Dewasa ini produk tersebut tersebar di seluruh negeri bahkan dapat ditemui di luar negeri, khususnya di daerah-daerah tempat masyarakat Indonesia tinggal.
Tahukah anda
Sepanjang perjalanannya, Bango telah memberi sejumlah sumbangsih dampak positif:
Petani kedele hitam – memberikan modal kerja, bantuan penanaman dan jaminan pasar tertentu atas hasil panen mereka. Program ini membantu mereka meningkatkan pendapatan mereka yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan mereka.
Penjaja makanan tradisional – melalui kegiatan Festival Jajan Bango, sejumlah penjaja yang berpartisipasi dibina agar perputaran mereka meningkat. Acara ini memungkinkan mereka memperkenalkan usaha mereka kepada khalayak yang lebih besar yang datang berkunjung.
Memperkenalkan makanan tradisional – melalui acara  TV,  Bango Cita Rasa Nusantara dapat mengungkap berbagai makanan tradisional di seluruh Indonesia dan memberikan peragaan memasak. Para penonton memberi sambutan yang hangat terhadap acara ini karena dinilai menambah pengetahuan mereka tentang makanan.

Deretan produk yang kami miliki


Bango Range

Horizontal Layer

Kecap Bango-14ml

Kecap Bango-85ml

kecap Bango-135ml

Bango Pouch-225ml


Kecap Bango-300ml

kecap Bango-600ml


Kecap Bango pada umumnya di buat dari bahan dasar kedelai karena
mengandung protein tinggi, tetapi ditinjau dari harganya kedelai mahal.
Sedangkan proses pembuatan kecap dengan fermentasi membutuhkan waktu yang
lama sekitar 4 – 5 minggu sehingga waktu pemasarannya juga lama. Oleh karena
itu perlu adanya alternatif pemanfaatan jenis biji-bijian atau kacang-kacangan lain
yang mengandung protein dan harganya lebih murah daripada kedelai. Salah
satunya yaitu biji turi yang mengandung protein sebesar 36,21%, proses
pembuatan kecap dengan cara hidrolisa yang menggunakan enzim bromelin dari
ekstrak buah nanas sebagai pengurai protein pada biji turi. Permasalahan : 1)
Adakah perbedaan kualitas kecap manis dari biji turi dengan penggunaan volume
ekstrak buah nanas yang bervariasi sebagai bahan pengurai protein biji turi
ditinjau dari aspek warna, aroma, rasa, kekentalan; 2) Apakah kandungan protein
pada kecap manis biji turi hasil eksperimen yang terbaik kualitasnya sudah sesuai
dengan SNI 01-3543-1994; 3) Bagaimana tingkat kesukaan masyarakat terhadap
kecap manis hasil eksperimen yang terbaik kualitasnya dan kecap kedelai yang
diperdagangkan ditinjau dari warna, aroma, rasa, kekentalan. Tujuan penelitian ini
adalah : 1) Untuk mengetahui perbedaan kualitas kecap manis dari biji turi dengan
penggunaan volume ekstrak buah nanas yang bervariasi sebagai bahan pengurai
protein biji turi ditinjau dari aspek warna, aroma, rasa, kekentalan. 2) Untuk
mengetahui kesesuaian kandungan kecap manis dari biji turi hasil eksperimen
yang terbaik dengan SNI 01-3543-1994. 3) Untuk mengetahui tingkat kesukaan
masyarakat terhadap kecap manis hasil eksperimen yang terbaik kualitasnya dan
kecap kedelai yang diperdagangkan ditinjau dari aspek warna, aroma, rasa,
kekentalan.
Populasi dalam penelitian ini adalah biji turi yang sudah tua dan kering,
ekstrak nanas dari buah nanas tua namun belum lunak. Sampelnya adalah biji turi
dengan ciri-ciri tua, kering warna kecoklatan, ekstrak nanas dari buah nanas yang
tua namun belum lunak yang diperoleh dari Desa Jogomerto Kecamatan
Tanjunganom Kabupaten Nganjuk. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah
penggunaan volume ekstrak nanas yang berbeda yaitu 100 ml, 80 ml, 60 ml untuk
perendaman setiap 100 gram biji turi. Variabel terikatnya adalah kualitas kecap
manis biji turi yang meliputi warna, aroma, rasa, kekentalan dan kandungan
protein kecap manis hasil eksperimen yang terbaik. Variabel kontrolnya adalah
jumlah semua bahan kecuali ekstrak nanas, penggunaan alat, proses pembuatan
yang dikendalikan sama. Metode penelitian yang digunakan adalah metode
eksperimen dengan desain acak sempurna, metode pengumpulan datanya metode
penilaian yang meliputi metode subyektif (uji indrawi dan uji organoleptik),
metode obyektif yang uji laboratorium. Analisis data yang digunakan adalah
analisis varians klasifikasi tunggal, uji Tukey, deskriptif persentase. Hasil Anava
menunjukkan bahwa harga Fo > Ftabel pada taraf signifikasi 5% maka hipotesis
kerja (Ha) mayor yang berbunyi “ada perbedaan kualitas kecap manis biji turi
dengan penggunaan volume ekstrak nanas yang bervariasi ditinjau dari aspek
warna, aroma, rasa, kekentalan” diterima. Dengan perkataan lain ada perbedaan
pada kecap manis hasil eksperimen dan kecap manis pembanding atau kontrol.
Sedangkan dilihat dari rerata total hasil uji Tukey terbesar dari aspek warna,
aroma, rasa, kekentalan menunjukkan kecap manis hasil eksperimen yang terbaik
adalah kecap manis biji turi dengan penggunaan volume ekstrak nanas 100 ml,
dengan kriteria warna coklat tua, aroma tidak langu, rasa sangat manis, agak
kental. Hasil laboratorium kandungan protein kecap manis hasil eksperimen yang
terbaik dengan sampel kecap manis biji turi dengan ekstrak nanas 100 ml adalah
sebesar 3,92% sudah memenuhi syarat mutu kecap manis dari SNI 01-3543-1994
yaitu minimal 2%. Hasil analisis diskriptif persentase pada uji kesukaan
masyarakat dari sampel kecap manis biji turi dengan ekstrak nanas 100 ml, sampel
kecap manis dengan ekstrak nanas 80 ml, sampel kecap manis dengan ekstrak
nanas 60 ml semua disukai oleh masyarakat. Ditinjau dari aspek warna, aroma,
rasa, kekentalan, sedangkan sampel pembanding atau kontrol sangat disukai oleh
masyarakat ditinjau dari semua aspek.
Hasil eksperimen dapat disimpulkan bahwa : 1) Ada perbedaan kualitas
kecap manis dari biji turi dengan penggunaan ekstrak buah nanas yang bervariasi
sebagai bahan penguraian biji turi ditinjau dari aspek warna, aroma, rasa,
kekentalan. 2) Kecap manis biji turi dengan ekstrak nanas sudah memenuhi syarat
SNI. 3) Masyarakat di Desa Jogomert Kecamatan Tanjunganom Kabupaten
Nganjuk sangat suka terhadap kecap manis yang diperdagangkan sebagai sampel
pembanding dalam hal warna, aroma, rasa, kekentalan. Kecap manis dengan
ekstrak nanas 100 ml disukai oleh masyarakat. Saran yang diajukan adalah : 1)
Menyebarluaskan pembuatan kecap manis dari biji turi dengan penggunaan
ekstrak nanas. 2) Ada penelitian lanjutan untuk meningkatkan kualitas kekentalan
kecap manis dari biji turi dengan penambahan ekstrak nanas sebesar 100 ml.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar